Bapa tua (panggilan akrab arkan untuk kakeknya Hi. Madja) pernah bercerita bahwa beliau pernah membeli sendal, namun ketika dipakai ternyata kekecilan. katanya sih “ini gara-gara saya pakai kacamata buta” (maksudnya kacamata yang digunakan orang yang sudah rabun untuk membaca). Ayah kepengen tertawa terbahak-bahak karena mengira bapa tua bercanda namun ayah mengurungkan niat tersebut dan menggantinya dengan senyuman.
Bayangkan apabila anda telah berusaha keras membanting tulang siang dan malam mencari nafkah untuk keluarga. Membuat usaha mandiri sehingga tidak merepotkan dan tidak menjadi benalu bagi orang lain. Tetap Idealis menghindari diri terjerumus ke dalam jurang kecurangan dan hal-hal yang tercela. Mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk masa depan keluarga, berhemat sedemikian rupa untuk perencanaan kedepan, tetap menyisihkan sedikit untuk berbagi dengan orang yang tidak mampu. Kemudian musibah datang menghancurkan semua yang telah dirintis untuk masa depan dan terkatung-katung dalam masalah yang belum terpecahkan. Apa yang akan anda lakukan? apakah anda akan mengambil jalan pintas dengan membahayakan diri sendiri atau mencari kesenangan sesaat dan menyesalinya tanpa henti. Ataukan anda meyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan dengan alasan, ini semua adalah cobaan atau ujianNya dan berdiam diri mengharapkan Mukjizat turun dari langit.
Mungkin sebagian besar kita yang merasa beriman mengganggap itu adalah cobaanNya, apakah kita bisa lulus dari ujianNya atau tidak. Karena apapun yang terjadi atau yang ada hanyalah Dia. Tiada hal yang mempunyai keberadaan selain Tuhan. Wah.. pernyataan inilah yang membuat manusia melejit maju dan tercerahkan namun pernyataan ini juga bisa menjerumuskan manusia ke jurang ketertindasan dan kebodohan. Layaknya pedang bermata dua.
Suatu ketika sebelum tidur, ayah berguman bahwa sebenarnya kita tidak mempunyai daya upaya karena semua yang kita lakukan itu karena kehendak Tuhan. Segala sesuatunya adalah Tuhan. Dia sendiri kesepian bermain dengan dirinya sendiri. Apapun yang kita lakukan, entah itu menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya atau malah sebaliknya. Berbuat baik untuk sesama atau berbuat jahat dan merugikan diri sendiri dan orang lain bahkan alam semesta, itu sama saja.. karena sebenarnya itu semua perbuatan Tuhan. Mengapa jika dikatakan kebenaran maka itu dari Tuhan namun jika itu adalah kemaksiatan maka katanya dari Setan atau Iblis. Berarti iblis juga mempunyai keberadaan dan mempunyai kehendak? ah gak masuk akal. Iblis itu juga adalah Tuhan. Jika iblis mempunyai keberadaan maka Tuhan bukanlah Tuhan.. Tuhan tidak lagi yang Maha… Maha… dan Maha..
Ketika berkata demikian maka bunda juga ikut nimbrung dan mengiyakannya, terus ayah berkata kalau begitu berarti bunda mengganggap tai itu juga Tuhan.. dengan ragu bunda menjawab iiya… terus dengan bercanda ayah mengatakan kepada bunda, jangan sampai bunda kualat trus ada palu-palu besar datang dari langit menghantam kita semua menjadi debu (he.. he.. he..)
Selanjutnya ayah berkata bahwa rasa sakit dan rasa senang itu sebenarnya juga tidak ada, karena yang ada hanya Dia. Kemudian ayah mencoba mencubit diri sendiri dan merasa bahwa ternyata kalau kita memahami seperti itu maka memang sebenarnya itu semua tidak ada, bahkan rasa sakit dicubit juga tidak ada (padahal yang mencubit ayah sendiri ya.. kemungkinan besar memang ayah tidak mau menyakiti diri sendiri sehingga tidak terasa sakit). Namun apa yang terjadi ketika bunda yang mencubit, ayah langsung menjerit kesakitan. Ternyata rasa sakit itu juga masih ada. Rasa senang itu juga terkadang datang terkadang digantikan dengan kesedihan. masalah juga masih belum terpecahkan. Apa sebenarnya yang terjadi? apakah pernyataan sebelumnya itu hanya kebohongan bahwa hanya dia yang ada? atau ada sesuatu yang lain?

bapa tua dan arkan
Ternyata memang tidak dapat dipungkiri kita masih berada di alam dualisme, hanya kemunafikan atau kepura-puraan saja yang menjadikan kita merasa bahwa hal tersebut telah kita lewati. Seperti yang dialami bapa tua, kacamata yang kita gunakan kebesaran. kacamata tersebut tepatnya digunakan untuk membaca, bukan untuk membeli sendal. Ketika kita masih berada di alam materi ini, kita tidak dapat lepas dari dualisme seperti benar dan salah, baik dan buruk, busuk dan harum, buruk dan indah, dan sebagainya. Sehingga jalanilah, like a river flow to the sea, let it flow. Tetap berjuang mengarungi samudra kehidupan dan siap menghadapi segala kejutan-kejutan dalam hidup ini.
Mungkin ketika kita telah berada di alam kesatuan, maka dualisme itu akan hilang dan kita akan terpesona dan terpaku memandang diri sendiri. Bermain dan bersenang-senang dengan diri sendiri tanpa ada yang lain, hanya dalam kesendirian itu sendiri. Kapan dan dimana hal tersebut bisa terjadi?? kapan dan dimana tidak berlaku lagi karena alam itu bukanlah materi yang terbatas oleh ruang dan waktu.
Wallahu alam
Desember 24, 2008 at 11:21 am
Halo Arkani, pa kabar??
Arkani, Ayah dan Bunda lagi dimana nih??
Mampr ke blog Tolinggi Family ya??